Ketika menanggalkan seragamku, aku takut tidak cantik lagi. Katanya, anak perempuan terlihat cantik dengan seragam sekolahnya. Seragam SD ? ya, aku terlihat sangat bersemangat dengan warna merahnya. Seragam SMP ?aku menginjak masa puber saat itu, (aku mencap bahwa aku tidak puber lagi sekarang). Aku harus membawa semua ketenangan bersamaku dan kreativitas dengan warna birunya, walaupun agak gelap. Maksudku, warna birunya yang gelap. BUKAN AKU. Tadi kan aku berkata bahwa aku tenang. Seragam SMA ?syukurlah, aku masih cantik sampai sekarang. Aku mengenakan rok abu-abu. Katanya warna abu-abu itu suram?tidak menurutku, aku merasa berkembang selama aku mengenakannya. Walaupun warnanya memang suram,(sekali lagi, bukan aku)karena makin memudar. Apakah pemudaran itu menandakan aku akan segera menanggalkannya? Sesungguhnya, aku ingin!
Memang bukan saatnya aku terlihat cantik dengan seragam sekolah lagi. Tapi aku harus membuktikan bahwa aku memang selalu terlihat cantik. Dengan apa ? dengan perbuatan,sikap, atau tingkah laku. Ya, ketiganya sama saja, aku rasa. Sejak dulu sampai sekarang, aku ingin menjadi seperti seorang putri, menurutku, ia cantik dan pintar, benar? Seorang putri memang tidak pernah sempurna. Aku juga ingin berteman dengan pangeran dan putri-putri lainnya. Dengan teman-temanku sekarang, ya.. semuanya sudah banyak. Aku sungguh menemukan semuanya, semua karakter putri dan pangeran. Sungguh, aku senang bersama mereka.
Saatnya aku menemukan yang lain di luar sana, tanpa seragam sekalipun. Aku tidak melihat bahwa masa setelah wajibsekolahsembilantahun adalah mudah. Tunggu, aku rasa aku overdosis dengan sekolah. Hey, aku lebih dari sembilan tahun duduk di bangku sekolah. Dan aku menganggap waktu selama itu adalah wajib. Mungkin itu adalah obsesi setiap orang tua, menempatkan anaknya di bangku sekolah yang boleh di bilang tahapnya berjalan, tidak boleh melompat (TK dulu, lalu SD, setelahnya SMP, selanjutnya SMA, kemudian KULIAH). Itu tentu agar mereka pintar,peka, cerdas, tanggap, dan banyak obsesi lain yang muncul setelahnya. Orangtuaku sepertinya selalu menahan untuk mendeklamasikan obsesinya. Mungkin mereka menunggu aku menjadi anggota badan legislatif. Dan hal itu tidak aku ingingkan, tentu juga mereka. Aku selalu mau tahu apa yang orangtuaku inginkan. Sayangnya, aku tidak bisa menguping melewati pulau. Aku tahu kok, mereka menginginkan obsesiku, bukan obsesi mereka. Aku pun berpikir demikian. bolehkan ?



some people said