Setelah mengikuti ujian nasional SMA, sambil menunggu pengumuman, gue mendaftarkan diri untuk mengikuti beberapa ujian masuk universitas, termasuk salah satunya beasiswa. Yang menjadi alasan utama mengikuti program beasiswa, adalah biar ga membebani orangtua. Alasan lainnya..hmmmm..
Coba aja bayangin berapa banyak biaya yang mesti orangtua kita keluarin buat kuliah kita. Puluhan juta, bahkan ratusan.
Jurusan yang gue pilih adalah KOMUNIKASI. Alhamdulillah, dari ratusan pendaftar, gue terpilih buat ikut tes wawancara. Untuk nyiapin momen itu, gue cari masukan masukan dari kakak kelas. Hal yang paling gue ingat, dia bilang gini, “kalau kamu uda terpilih ikut tes wawancara, itu artinya kamu uda masuk kualifikasi mereka, tinggal kamu yakinin aja”.
Gue juga uda nyiapin solo drama buat nunjukin bakat.
Ternyata mengenali diri sendiri termasuk hal yang lumayan sulit. Pernah kita merasa begitu yakin uda mengenal diri kita sendiri. Tapi coba buat pertanyaan tentang diri kita.
Misalnya,
apa kelebihan kamu?
Kekurangan kamu?
Bagaimana tanggapanmu tentang diri sendiri?
Apa yang membuat kamu bangga dengan diri sendiri?
Kalau kamu dilahirkan lagi, masih maukah kamu dilahirkan seperti kamu sekarang? Kalau ga kenapa.. kalau iya kenapa..
Benar benar butuh pemikiran khusus.
Gue bahkan beli kemeja dan benar benar memikirkan apa yang harus gue kenakan hari itu.
Tibalah harinya.. dan jreeennngg… gue ketemu banyak teman baru dengan beragam kelebihan yang bikin gue ngiler. Ada yang pinternya selangit, pandai bersosialisasi, pinter main kecapi, nari, ikut pertukaran pelajar, dll.
Bikin jantung gue naik turun, but that’s oke.. gue siap.
Lalu, apa lagi?
Tiba tiba nih, ada satu hal yang membuat gue sangat kepikiran. Gimana kalau diminta berbahasa inggris? Satu hal yang gue takutkan, gue ga bisa ngomongin semuanya dengan lugas kalau pake bahasa inggris. Akhirnya gue memutuskan, kalau diminta bahasa inggris, gue mau pake ‘bahasa’ aja.
Dan bener itu terjadi. Waktu diminta, gue ngotot pengen ‘bahasa’ aja. (kesalahan pertama gue)
Penolakan itu bisa berarti, gue ga percaya dengan kemampuan diri gue sendiri, dan gue ga mau mencoba.
Lalu, apa lagi?
Trus ditanya, apa itu entrepreneurship? (oh my god.. hal yang sering gue denger, tapi ga pernah bener bener tau artinya)
Dengan polosnya gue bilang.. ga tau.. dan interviewernya sempat kaget. (kesalahan kedua)
Itu berarti, gue kurang punya wawasan yang luas.
Lalu, apa lagi?
Karena gue pilih komunikasi, gue ditantang untuk membujuk si interviewer yang jelas ga suka sama jambu biji, buat suka sama salah satu buah favorit gue itu.
Finally, gue gagal untuk benar benar meyakinkan beliau. (kesalahan ketiga)
Gue mungkin kurang siap dengan hal hal dadakan.
Satu hal yang membuat gue bangga dan puas sama diri gue saat itu,
gue berhasil menampilkan solo drama dengan baik, soalnya interviewernya kelihatan excited banget.
Alhamdulillah..
Lalu, apa lagi?
Setelah itu semua selesai.. gue lemessss banget .
Beban terberat adalah.. gue ga bisa buat orangtua gue bangga saat itu. Dan bukan karena pesimis, gue sadar gue uda melakukan beberapa hal yang membuat gue mungkin ga terpilih untuk masuk babak selanjutnya. Dan itu benar terjadi..
Berhari hari setelahnya gue memikirkan hal itu dan menjadi sangat trauma.. bahkan gue ga mau bersinggungan dengan hal hal yang berhubungan dengan itu.
Lalu, apa lagi?
Akhirnya gue ikut orangtua untuk daftar di salah satu akademi, yang ga pernah terbayangkan dan ga pernah menjadi cita cita gue.
Di satu sisi gue berharap ga lulus, tapi di sisi lain, gue ga pengen mengecewakan orangtua.
Akhirnya gue kerjakan soalnya sebaik yang gue bisa sampai gue dinyatakan berhak mengikuti tes wawancara.
Disitu gue bertekad, ga akan melakukan kesalahan untuk kedua kalinya. Dan mau buat orangtua gue bangga.
Gue puas banget dengan wawancara hari itu dan uda merasa sangat berhasil.
Sekarang gue menjalani pendidikan itu dengan baik, dan bersyukur punya orangtua yang selalu memberi motivasi buat gue.
Kita berkali kali melakukan kesalahan, tapi itu bukan alasan untuk kita berhenti,
bahkan itu yang membuat kita makin kuat.
Jujurlah pada diri sendiri, walaupun kenyataan itu tampak sangat menyakitkan.
Lalu..
Bersiap siaplah menerima KESEMPATAN.